BONTANG – Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni membuka kegiatan tracing TBC Lapas Bontang yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bontang, Selasa (20/10/2026). Dinas Kesehatan Kota Bontang menggelar kegiatan itu bersama pihak Lapas di Jalan Prestasi, Kelurahan Bontang Lestari, dengan pendampingan pemeriksaan memakai X-Ray Portable dari Kementerian Kesehatan.
Ketua Komite I DPD RI Andi Sofyan Hasdam menghadiri pembukaan kegiatan tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang Toetoek Pribadi Ekowati dan Kepala Lapas Kelas IIA Bontang Agus Wiyono turut hadir bersama tim pendamping Kementerian Kesehatan, Kepala Puskesmas Bontang Lestari, tenaga kesehatan, dan petugas pelaksana.
Neni menegaskan pelayanan kesehatan merupakan hak setiap warga, termasuk warga binaan pemasyarakatan. “Pemeriksaan kesehatan ini penting untuk mendeteksi penyakit sejak dini, terutama tuberkulosis yang dapat menular melalui udara,” ujarnya. Ia berharap seluruh warga binaan mengikuti pemeriksaan dengan baik dan segera menjalani pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan apabila terdiagnosis TBC.
Tracing TBC Lapas Bontang: 48 Warga Binaan Terduga TBC di Lapas Kelebihan Kapasitas
Wali Kota menyoroti kondisi Lapas Kelas IIA Bontang yang jauh melampaui daya tampung. Jumlah penghuni mencapai 1.814 orang, sedangkan kapasitas lapas hanya 594 orang berdasarkan laporan yang ia terima. Kepadatan hunian seperti itu meningkatkan risiko penularan penyakit menular, termasuk TBC yang menyebar melalui udara.
Toetoek menjelaskan skrining terintegrasi ini mencakup pemeriksaan gejala, rontgen dada menggunakan X-Ray Portable, dan Cek Kesehatan Gratis. Hingga Triwulan III 2026, petugas mencatat 48 orang terduga TBC di Lapas Kelas IIA Bontang dan menemukan tiga kasus. Seluruh pasien yang ditemukan telah memulai pengobatan. Neni menyebut capaian pengobatan TBC di Kota Bontang mencapai sekitar 94 persen.
Agus Wiyono mengapresiasi dukungan pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga binaan. Ia mengakui jumlah penghuni yang melebihi kapasitas menjadi tantangan tersendiri, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan. “Kami berharap warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh pembinaan yang bermanfaat sehingga nantinya dapat kembali ke keluarga dan masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, mandiri, serta tidak mengulangi pelanggaran hukum,” ungkapnya.
Bontang Dapat 73 Lokus Skrining dan Alat Tes Molekuler Cepat
Penanggulangan TBC merupakan program prioritas nasional untuk mendukung eliminasi TBC pada 2030. Kota Bontang memperoleh alokasi 73 lokus skrining TBC terintegrasi CKG. Sebanyak 44 lokus melakukan skrining berdasarkan gejala, sedangkan 29 lokus mendapat pendampingan X-Ray Portable. Lapas Kelas IIA Bontang menjadi lokus pertama di kota ini yang memperoleh pendampingan pemeriksaan dengan perangkat tersebut.
Dinas Kesehatan juga mendapat dukungan satu unit X-Ray Portable dan lima unit alat tes molekuler cepat untuk sejumlah puskesmas. Dukungan alat itu memperkuat deteksi dini dan penegakan diagnosis TBC di Kota Bontang. Usai pembukaan, Wali Kota bersama rombongan meninjau Klinik Pratama Lapas Kelas IIA Bontang untuk melihat langsung fasilitas pelayanan kesehatan bagi warga binaan.
Sumber Berita : Portal Bontang









