Pangkajene dan Kepulauan – Tim SAR gabungan berhasil menemukan satu korban dari peristiwa tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Muchlisa yang terjadi pada Sabtu (3/5) di perairan sekitar Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Korban ditemukan pada Senin (5/5) pagi, sekitar 2 mil laut dari lokasi terakhir kapal dilaporkan tenggelam.
Menurut keterangan Kepala Kantor SAR Makassar, Mexianus Bekabel, korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia oleh tim penyelam yang melakukan penyisiran laut sejak dini hari. Namun, proses evakuasi korban sempat terkendala oleh faktor cuaca, terutama kabut tebal yang menyebabkan jarak pandang di laut sangat terbatas.
“Jarak pandang sangat minim, hanya sekitar 20 hingga 30 meter pagi tadi. Hal ini memperlambat proses penarikan jenazah ke kapal SAR,” ujar Mexianus dalam konferensi pers yang digelar di Pelabuhan Paotere, Makassar.
KMP Muchlisa dilaporkan tenggelam saat sedang berlayar dari Pelabuhan Maccini Baji, Pangkep, menuju Pulau Pamantauan. Kapal tersebut membawa 24 orang, terdiri dari penumpang dan kru kapal. Kapal diyakini tenggelam akibat dihantam gelombang tinggi dan cuaca buruk yang melanda perairan tersebut sejak akhir pekan lalu.
Detik-Detik Tenggelamnya Kapal
Sejumlah saksi mata yang selamat dari tragedi tersebut mengungkapkan bahwa kapal mulai oleng sekitar pukul 16.00 WITA setelah dihantam gelombang setinggi 3 hingga 4 meter. Beberapa bagian kapal dilaporkan mengalami kebocoran sehingga air cepat masuk ke dalam lambung.
“Air masuk dengan sangat cepat. Kami semua panik. Tidak semua penumpang pakai jaket pelampung,” kata salah satu korban selamat, Saiful, yang kini masih dirawat di Puskesmas terdekat.
Beberapa penumpang berupaya berenang ke pulau terdekat, sementara lainnya tetap bertahan di puing-puing kapal hingga bantuan datang. Tim SAR yang menerima laporan pada Sabtu malam segera mengerahkan armada pencarian, termasuk satu kapal cepat dan dua tim penyelam.
Korban Masih Hilang
Hingga Senin malam, tercatat 17 orang telah berhasil ditemukan, dengan rincian 14 orang selamat dan 3 orang meninggal dunia. Tujuh orang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian intensif. Operasi SAR melibatkan berbagai pihak, termasuk Basarnas, TNI AL, Polairud, dan masyarakat nelayan sekitar.
Kepala Basarnas Makassar menyebutkan bahwa pencarian akan tetap dilanjutkan selama tujuh hari sesuai dengan prosedur standar operasi. Namun, jika kondisi cuaca tidak membaik, pencarian kemungkinan akan mengalami kendala serius.
“Gelombang laut masih cukup tinggi, dan angin di perairan ini sangat kencang. Kami harus sangat berhati-hati agar tidak menambah jumlah korban,” jelas Mexianus.
Tanggapan Pemerintah Daerah
Bupati Pangkep, Muhammad Yusran Lalogau, menyatakan duka mendalam atas insiden tersebut dan memastikan bahwa pemerintah daerah akan memberikan bantuan bagi keluarga korban. Posko tanggap darurat telah dibuka di dua lokasi, yakni di Pelabuhan Maccini Baji dan Kantor Camat Liukang Tangaya.
“Kami sudah bentuk tim pendamping untuk keluarga korban. Bantuan logistik dan psikologis juga sedang disiapkan,” kata Yusran.
Pemerintah daerah juga akan mengevaluasi izin operasional kapal penyeberangan di wilayah tersebut, terutama yang melayani jalur antarpulau yang rawan cuaca ekstrem.
Masalah Keselamatan Transportasi Laut Kembali Disorot
Peristiwa tenggelamnya KMP Muchlisa kembali menyorot buruknya pengawasan keselamatan transportasi laut di wilayah kepulauan. Beberapa pihak menyoroti minimnya alat keselamatan di atas kapal dan tidak adanya sistem deteksi dini cuaca buruk.
Direktur Indonesian Maritime Safety Watch, Hendri Supit, menyebut kejadian ini bukan yang pertama dan kemungkinan akan terulang jika tidak ada pembenahan serius.
“Sering kali kapal tetap diizinkan berlayar meskipun BMKG sudah mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi. Ini kelalaian sistemik, bukan semata-mata faktor alam,” ujar Hendri.
BMKG sebelumnya memang telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi 2,5 hingga 4 meter di perairan Sulawesi Selatan sejak Jumat (2/5). Namun, belum diketahui apakah pihak pengelola kapal menerima atau menindaklanjuti informasi tersebut sebelum kapal berangkat.
Harapan Keluarga dan Masyarakat
Keluarga para korban yang masih dinyatakan hilang kini hanya bisa menunggu dengan harapan. Beberapa di antaranya tetap berjaga di pinggir pantai dan posko SAR dengan harap-harap cemas.
“Semoga mereka cepat ditemukan, walau dalam keadaan apapun,” ujar Rahma, kakak dari salah satu korban yang masih hilang.
Tim SAR menyatakan akan menambah armada pencarian mulai Selasa (6/5), termasuk melibatkan drone udara untuk memperluas area pencarian. Masyarakat sekitar juga diajak berpartisipasi melaporkan bila menemukan tanda-tanda keberadaan korban di sekitar pesisir pulau-pulau kecil.











