Kota Bontang di Provinsi Kalimantan Timur bakal mencatat sejarah baru dalam dunia olahraga otomotif. Pemerintah Kota Bontang tengah merancang pembangunan sirkuit balap pertama di kota tersebut. Proyek ambisius ini digadang-gadang tidak hanya akan menjadi pusat kegiatan olahraga otomotif, tetapi juga sebagai penunjang ekonomi kreatif dan pariwisata lokal.
Rencana Lokasi: Di Lahan Eks PT Badak LNG
Pembangunan sirkuit balap ini rencananya akan mengambil tempat di lahan eks PT Badak LNG, tepatnya di kawasan buffer zone yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Lokasi ini dinilai strategis karena berada cukup dekat dengan pusat kota namun tetap memiliki ruang terbuka yang luas untuk pengembangan fasilitas.
“Lahan yang akan digunakan berada dalam zona aman dan tidak mengganggu pemukiman warga. Ini menjadi pertimbangan utama kami, selain aksesibilitasnya yang cukup baik,” ujar Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) Bontang, Rizal Ramadhan, dalam konferensi pers pada Senin (8/4).
Lahan eks industri ini juga dinilai memenuhi syarat dari sisi keamanan dan kenyamanan untuk dijadikan kawasan olahraga permanen, terutama karena tidak berdekatan langsung dengan jalur padat lalu lintas maupun area rawan longsor.
Desain Awal dan Jenis Sirkuit
Rizal menyebutkan, sirkuit yang akan dibangun memiliki desain multifungsi. Tidak hanya digunakan untuk balap motor atau mobil, lintasan ini juga bisa difungsikan untuk kegiatan komunitas seperti drifting, road race, hingga pelatihan safety riding.
“Kami sedang menggandeng konsultan untuk membuat desain lintasan yang sesuai dengan standar nasional. Sirkuit ini juga diharapkan bisa digunakan untuk kejuaraan tingkat regional hingga nasional,” ujarnya.
Panjang lintasan diproyeksikan sekitar 1,2 hingga 1,5 kilometer, dengan lebar yang cukup untuk balapan roda dua maupun roda empat. Selain itu, fasilitas penunjang seperti paddock, tribun penonton, ruang medis, serta area UMKM juga akan disiapkan.
Target Pembangunan dan Sumber Pendanaan
Pemerintah Kota Bontang menargetkan proses pembangunan dimulai pada akhir tahun 2025. Saat ini, proyek masih dalam tahap perencanaan teknis dan kajian kelayakan. Pemerintah juga membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk pembiayaan proyek ini.
“Anggaran murni dari APBD tentu terbatas. Oleh karena itu, kita akan dorong skema kerja sama public-private partnership (PPP), atau bahkan sponsorship dari perusahaan besar yang memiliki kepedulian terhadap olahraga otomotif,” jelas Rizal.
Estimasi anggaran awal pembangunan sirkuit ini berada di kisaran Rp40 hingga Rp60 miliar. Angka ini dinilai realistis untuk membangun fasilitas berstandar nasional yang bisa bertahan dalam jangka panjang.
Dukungan Komunitas Otomotif
Rencana pembangunan sirkuit ini disambut antusias oleh komunitas otomotif di Bontang dan sekitarnya. Selama ini, para penghobi otomotif harus pergi ke Samarinda atau Balikpapan untuk mengikuti kejuaraan atau sekadar latihan di lintasan resmi.
“Ini kabar yang kami tunggu-tunggu. Sudah lama kami ingin ada fasilitas seperti ini di Bontang, agar anak-anak muda punya tempat yang aman dan legal untuk menyalurkan hobinya,” kata Andre Prasetyo, ketua komunitas Bontang Racing Team (BRT).
Andre juga menambahkan bahwa keberadaan sirkuit dapat mengurangi aksi balap liar di jalanan kota, yang selama ini menjadi masalah sosial tersendiri di kalangan remaja.
Dampak Ekonomi dan Pariwisata
Tak hanya dari sisi olahraga, pemerintah juga melihat pembangunan sirkuit ini sebagai peluang besar untuk menggerakkan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata. Dengan adanya sirkuit, berbagai event bisa digelar secara rutin, menarik pengunjung dari luar kota hingga luar provinsi.
“Ini bukan hanya proyek infrastruktur, tapi juga investasi untuk masa depan ekonomi kota. Setiap event otomotif pasti melibatkan hotel, kuliner, transportasi, dan UMKM lokal,” ujar Wali Kota Bontang, Basri Rase, dalam kesempatan terpisah.
Basri juga menegaskan bahwa proyek ini akan menjadi bagian dari rencana jangka panjang pengembangan kawasan olahraga terpadu di Bontang, yang nantinya juga akan mencakup fasilitas olahraga lain seperti stadion, gedung serbaguna, hingga jalur sepeda.
Langkah Selanjutnya
Setelah kajian awal rampung, pemerintah akan mengadakan konsultasi publik dan pelibatan komunitas agar sirkuit ini benar-benar menjadi ruang bersama. Selain itu, studi dampak lingkungan (AMDAL) juga akan segera disusun untuk memastikan proyek ini berjalan sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
“Pembangunan sirkuit ini akan kami kawal secara transparan dan akuntabel. Kami ingin ini menjadi ikon baru Bontang, bukan hanya proyek biasa,” tutup Rizal.
Jika semua berjalan sesuai rencana, Bontang akan masuk peta kota-kota dengan fasilitas otomotif profesional di Indonesia dalam waktu tiga tahun ke depan. Kota kecil ini pun siap “gaspol” menuju era baru di dunia otomotif nasional.











