Bontang – SMP 8 Bontang menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan jumlah siswa yang terus meningkat. Tahun ajaran baru 2025/2026 ini, sekolah negeri tersebut resmi menambah jumlah rombongan belajar (rombel) demi mengakomodasi tingginya animo pendaftar. Namun, langkah strategis ini terbentur masalah keterbatasan ruang kelas.
Kepala SMP 8 Bontang, Nur Aini, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa penambahan rombel dilakukan sebagai bentuk respons terhadap permintaan masyarakat. Total ada tujuh rombel untuk kelas VII tahun ini, naik dari enam rombel di tahun sebelumnya. Penambahan ini merupakan bentuk komitmen sekolah dalam memberikan akses pendidikan bagi lebih banyak siswa di wilayah Bontang Selatan.
“Minat masyarakat sangat tinggi, dan kami ingin mengakomodasi itu. Tapi memang harus diakui bahwa ruang kelas kami belum mencukupi,” ujar Nur Aini saat ditemui di ruang kerjanya.
Ruang Kelas Terbatas
Saat ini, SMP 8 Bontang hanya memiliki 18 ruang kelas aktif, yang dipakai untuk proses belajar-mengajar dari kelas VII hingga IX. Dengan jumlah rombel yang kini mencapai 19 rombel, sekolah terpaksa menerapkan sistem rotasi dan memanfaatkan ruang-ruang alternatif seperti perpustakaan dan laboratorium sebagai ruang belajar sementara.
Hal ini bukan tanpa risiko. Penggunaan ruang non-kelas untuk pembelajaran berpotensi mengganggu kenyamanan dan efektivitas proses belajar siswa. “Idealnya, satu rombel satu ruang kelas tetap. Tapi kami belum bisa memenuhi itu,” tambah Nur Aini.
Upaya Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Untuk jangka pendek, pihak sekolah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bontang guna mencari solusi cepat. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penggunaan shift belajar jika jumlah siswa terus meningkat di tahun-tahun mendatang.
Sementara itu, dalam jangka panjang, SMP 8 Bontang berharap adanya penambahan bangunan ruang kelas baru melalui alokasi anggaran dari pemerintah daerah atau bantuan dari pemerintah pusat.
“Kami sudah mengajukan proposal pembangunan ruang kelas tambahan. Harapannya tahun depan bisa terealisasi, sehingga tidak perlu lagi meminjam ruang lain untuk kegiatan belajar,” ujar Nur Aini.
Dukungan Orang Tua dan Komite Sekolah
Komite sekolah bersama para orang tua siswa menyatakan dukungannya terhadap penambahan rombel, meski memahami tantangan fasilitas yang dihadapi sekolah. Mereka menilai penambahan rombel adalah langkah positif untuk menjawab kebutuhan pendidikan di lingkungan Bontang Selatan yang terus berkembang.
Sugeng Priyanto, Ketua Komite SMP 8 Bontang, mengatakan bahwa pihaknya siap membantu dalam bentuk gotong royong maupun advokasi ke pihak legislatif dan eksekutif agar kebutuhan ruang kelas bisa segera dipenuhi.
“Kami ingin anak-anak kami belajar dengan nyaman. Kalau perlu, kita usulkan bangunan semi permanen sementara sampai ruang kelas permanen tersedia,” ungkapnya.
Respon Dinas Pendidikan
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bontang, Drs. Arham, M.Pd., mengatakan bahwa pihaknya telah mencatat kebutuhan tambahan ruang kelas di SMP 8 Bontang. Ia menegaskan bahwa pemerintah kota berkomitmen mendukung sekolah-sekolah yang mengalami lonjakan siswa.
“Kami akan lihat alokasi anggaran di APBD perubahan atau tahun depan. SMP 8 Bontang memang menjadi salah satu prioritas karena wilayahnya padat penduduk,” kata Arham.
Ia menambahkan bahwa Bontang sedang memetakan kebutuhan sekolah-sekolah di tiap kecamatan guna mengantisipasi lonjakan peserta didik dari tahun ke tahun, terutama akibat pertumbuhan kawasan permukiman baru.
Kasus yang dialami SMP 8 Bontang mencerminkan tantangan klasik dunia pendidikan di daerah, yakni antara peningkatan akses dan keterbatasan fasilitas. Di satu sisi, semangat untuk membuka peluang pendidikan bagi lebih banyak anak patut diapresiasi. Namun, langkah itu harus diimbangi dengan ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai.
Sebagai sekolah yang terus berkembang, SMP 8 Bontang kini berdiri di persimpangan penting. Dukungan pemerintah, orang tua, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa setiap anak yang diterima tidak hanya mendapatkan tempat, tapi juga kualitas pembelajaran yang layak dan optimal.











